Komponen Dinamik (Energi Psikis)
Semangat (atau arah) perkembangan ilmiah dan intelektual pada
akhir abad ke-19 terpusat di sekitar kajian tentang energi, dan Freud
menerapkan konsep energi tersebut terhadap perilaku manusia. Ia menyebut energi
ini sebagai energi psikis (psychic energyatau energy yang mengoperasikan berbagai
komponen sistem psikologis.
Freud berpendapat bahwa insting (instincts) atau
dorongan-dorongan psikologis yang muncul tanpa dipelajari adalah sumber utama
energy psikis. Insting memiliki dua ciri khas yang sangat penting, yakni:
ciri konservatif (pelestarian) dan ciri repetitif (perulangan). Maksudnya,
insting selalu menggunakan sesedikit mungkin jumlah energi yang di perlukan
untuk melaksanakan aktivitas tertentu dan kemudian mengembalikan organisme
kepada keadaannya yang semula, dan hal itu terjadi secara berulang-ulang. Dalam
sistem Freud, insting bertindak sebagai perangsang pikiran mendorong individu
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu. Insting juga bisa dipandang
sebagai gambaran psikologis dari proses biologis yang berlangsung.
Komponen Struktural
Id (Das Es) adalah sistem kepribadian yang asli, dibawa sejak lahir. Dari id ini kemudian akan muncul ego
dan superego. Saat dilahirkan, id berisi semua aspek psikologik yang
diturunkan, seperti insting, impuls dan drives. Id berada dan beroperasi dalam
daerah unansdous, mewakili subjektivitas yang tidak
pemah disadari sepanjang usia. Id berhubungan erat dengan proses fisik untuk
mendapatkan enerji psikis yang digunakan untuk mengoperasikan sistem dari
struktur kepribadian lainnya.
Id beroperasi berdasarkan prinsip
kenikmatan (pleasunprinciple), yaitu: berusaha memperoleh
kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Bagi Id, kenikmatan adalah keadaan yang relatif inaktif atau tingkat
enerji yang rendah, dan rasa sakit adalah tegangan atau peningkatan enerji yang
mendambakan kepuasan. Jadi ketika ada stimuli yang memicu enerji untuk bekerja
– timbul tegangan enerji – id beroperasi dengan prinsip kenikmatan; berusaha
mengurangi atau menghilangkan tegangan itu; mengembalikan din ke tingkat enerji
yang rendah. Pleasure principle diproses dengan dua Cara,
tindak refleks (reflex actions) dan proses primer (primaryprocess). Tindak refleks adalah reaksi
otomatis yang dibawa sejak lahir seperti mengejapkan mata –
dipakai untuk menangani pemuasan rangsang sederhana dan biasanya segera dapat
dilakukan. Proses primer adalah reaksi membayangkan/mengkhayal sesuatu yang
dapat mengurangi atau menghilangkan tegangan – dipakai untuk menangani stimulus
kompleks, seperti bayi yang lapar membayangkan makanan atau puting ibunya.
Proses membentuk gambaran objek yang dapat mengurangi tegangan, disebut
pemenuhan hasrat (nosh fullment), misalnya mimpi, lamunan, dan
halusinasi psikotik.
Id hanya mampu membayangkan sesuatu, tanpa mampu membedakan
khayalan itu dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan kebutuhan. Id tidak
mampu menilai atau membedaka benar-salah, tidak tabu moral. Jadi hams
dikembangkan jalan memperoleh khayalan itu secara nyata, yang memberi kepuasan
tanpa menimbulkan ketegangan baru khususnya masalah moral. Alasan inilah yang
kemudian membuat Id memunculkan ego.
Ego (Das
Ich) berkembang dari id agar orang
mampu menangani realita; sehingga ego beroperasi mengikuti prinsip realita (realityprinciple); usaha memperoleh kepuasan yang
dituntut Id dengan mencegah terjadinya tegangan barn atau menunda kenikmatan
sampai ditemukan objek yang nyata-nyata dapat memuaskan kebutuhan. Prinsip
realita itu dikerjakan metalui proses sekunder (secondaryprocess), yakni berfikir realistik
menyusun rencana dan menguji apakah rencana itu menghasilkan objek yang
dimaksud. Proses pengujian itu disebut uji realita (reality testin ; melaksanakan tindakan sesuai dengan
rencana yang telah difikirkan secara realistik. Dari cara kerjanya dapat
difahami sebagian besar daerah operasi ego berada di kesadaran, namun ada
sebagian kecil ego beroperasi di daerah prasadar dan daerah taksadar.
Ego adalah eksekutif (pelaksana) dari kepribadian, yang memiliki
dua tugas utama; pertama, memilih stimuli mana yang hendak direspon dan atau
insting mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua,
menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai dengan
tersedianya peluang yang. resikonya minimal.Dengan kata
lain, ego sebagai eksekutif kepribadian berusaha memenuhi kebutuhan Id
sekaligus juga memenuhi kebutuhan moral dan kebutuhan
berkembang-mencapai-kesempurnaan dan superego. Ego sesungguhnya bekerja untuk
memuaskan Id, karena itu ego yang tidak memiliki enerji sendiri akan memperoleh
enegi dari Id.
Superego (Das
Ueber Ich) adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi
memakai prinsip idealistik (idealisticprinciple) sebagai lawan dari prinsip
kepuasan Id dan prinsip realistik dad Ego. Superego berkembang dari ego, dan
seperti ego dia tidak mempunyai energi sendiri. Sama dengan ego, superego
beroperasi di tiga daerah kesadaran. Namun berbeda dengan ego, dia tidak
mempunyai kontak dengan dunia luar (sama dengan Id) sehingga kebutuhan
kesempurnaan yang diperjuangkannya tidak realistik (Id tidak realistik dalam
memperjuangkan kenikmatan).
Prinsip idealistik mempunyai dua subprinsip, yakni conscience dan ego-ideal. Super-ego pada hakekatnya merupakan
elemen yang mewakili nilai-nilai orang tua atau interpretasi orang tua mengenai
standar sosial, yang diajarkan kepada anak melalui berbagai larangan dan
perintah. Apapun tingkahlaku yang dilarang, dianggap
salah, dan dihukum oleh orang tua, akan diterima anak menjadi suara hati (conscience), yang berisi apa saja yang tidak
boleh dilakukan. Apapun yang disetujui, dihadiahi dan dipuji orang tua akan
diterima menjadi standar kesempurnaan atau ego ideal, yang berisi apa saja yang
seharusnya dilakukan. Proses mengembangkan konsensia dan ego ideal, yang
berarti menerima standar salah dan benar itu disebut introyeksi (introjection). Sesudah terjadi introyeksi,
kontrol pribadi akan mengganti kontrol orang tua.
Superego bersifat nonrasional dalam menuntut kesempurnaan, menghukum
dengan keras kesalahan ego, baik yang telah dilakukan maupun baru dalam
fikiran. Super-ego juga seperti ego dalam hal mengontrol id, bukan hanya
menunda pemuasan tetapi merintangi pemenuhannya. Paling tidak, ada 3 fungsi
superego; (1) mendorong ego menggantikan tujuan-tujuan realistik dengan
tujuan-tujuan moralistik, (2) merintangi impuls id, terutama impuls seksual dan
agresif yang bertentangan dengan standar nilai masyarakat, dan (3) mengejar
kesempurnaan.
Struktur kepribadian id-ego-superego itu bukan bagian-bagian
yang menjalankan kepribadian, tetapi itu adalah nama dalam sistem struktur dan
proses psikologik yang mengikuti prinsip-prinsip tertentu. Biasanya
sistem-sistem itu bekerja bersama sebagai team, di bawah arahan ego. Baru kalau
timbul konflik diantara ketiga struktur itu, mungkin sekali muncul tingkahlaku
abnormal.
Komponen Sekuensial (Tahapan)
Bagian ketiga dan terakhir dari model Freud adalah komponen
tahapan atau komponen sekuensial (sequential or stage component). Bagian ini menekankan
pola atau gerak maju organisme melalui tahapan-tahapan perkembangan yang
berbeda dan semakin lama semakin adaptif. Menurut Freud, pintu pertama menuju
kematangan adalah tahapan perkembangan genital, dimana terbentuk hubungan yang
berarti berlangsung terus menerus

No comments:
Post a Comment