Pandangan mengenai seksualitas bayi dan anak-anak ini memicu
protes luas orang-orang menentang Freud pada masa-masa akhir era Victorian dan
awal abad ke-20. Tetapi Freud dan para pengikutnya, yang mendasarkan pendirian
mereka pada pengalaman-pengalaman klinis, bersikukuh pada teori tersebut”
Mereka tetap berpegang pada pandangan bahwa kornponen-komponen
psikologis-eksperiensial saling terkait dengan disertai pergantian zona-zona
erogen secara biologis melalui urutan (sekuen) tertentu. Dengan demikian
tahapan-tahapan perkembangan ini disebut sebagai tahapan-tahapan psikoseksual
(Psychosexual stages). Teori Freud. memandang bahwa tahapan-tahapan ini
bersifat urniversal, berlaku pada sernua anak-anak dimana saja.
Menurut Freud, kemunculan setiap tahapan psikoseksual dan
sebagian bentuk perilaku yang terjadi di setiap tahapan dikendalikan oleh
faktor-faktor genetik atau kematangan sedangkan isi tahapan-tahapan tersebut
berbeda-beda bergantung pada kultur tempat terjadinya perkembangan. Sekali lagi
ini memperlihatkan contoh mengenai pentingnya interaksi antara kekuatan
keturunan dan kekuatan lingkungan bagi proses perkembangan.
Freud berpendapat bahwa dalam perkembangan manusia terdapat dua
hal pokok yaitu: (1) bahwa tahun-tahun awal kehidupan memegang peranan penting
bagi pembentukan kepribadian; dan (2) bahwa perkembangan manusia meliputi
tahap-tahap psikoseksual:
a) Tahap oral ( sejak lahir hingga 1tahun )
Sumber kenikmatan pokok yang berasal dari mulut adalah makan.
Dua macam aktivitas oral ini, yaitu menelan makanan dan mengigit,
merupakan prototipe bagi banyak ciri karakter yang berkembang di kemudian hari.
Karena tahap oral ini berlangsung pada saat bayi sama sekali tergantung pada
ibunya untuk memdapatkan makanan, pada saat dibuai, dirawat dan dilindungi dari
perasaan yang tidak menyenangkan, maka timbul perasaan-perasaan tergantung pada
masa ini. Frued berpendapat bahwa simtom ketergantungan yang paling ekstrem
adalah keinginan kembali ke dalam rahim.
b) Tahap anal ( usia 1-3 tahun )
Setelah makanan dicernakan, maka sisa makanan menumpuk di ujung
bawah dari usus dan secara reflex akan dilepaskan keluar apabila tekanan pada
otot lingkar dubur mencapai taraf tertentu. Pada umur dua tahun anak
mendapatkan pengalaman pertama yang menentukan tentang pengaturan atas suatu
impuls instingtual oleh pihak luar. Pembiasaan akan kebersihan ini dapat
mempunyai pengaruh yang sangat luas terhadap pembentukan sifat-sifat dan
nilai-nilai khusus. Sifat-sifat kepribadian lain yang tak terbilang
jumlahnya konon sumber akarnya terbentuk dalam tahap anal.
Selama tahap perkembangan kepribadian ini yang menjadi pusat
dinamika adalah perasaan-perasaan seksual dan agresif berkaitan dengan mulai
berfungsinya organ-organ genetikal. Kenikmatan masturbasi serta kehidupan
fantasi anak yang menyertai aktivitas auto-erotik membuka jalan bagi timbulnya
kompleks Oedipus. Freud memandang keberhasilan mengidentifikasikan
kompleks Oedipus sebagai salah satu temuan besarnya.
Freud mengasumsikan bahwa setiap orang secara inheren adalah
biseksual, setiap jenis tertarik pada anggota sejenis maupun pada anggota lawan
jenis. Asumsi tentang biseksualitas ini disokong oleh penelitian terhadap
kelenjar-kelenjar endokrin yang secara agak konklusif menunjukkan bahwa baik
hormon seks perempuan terdapat pada masing-masing jenis. Timbul dan
berkembangnya kompleks Oedipus dan kompleks kastrasi merupakan
peristiwa-peristiwa pokok selama masa phalik dan meninggalkan serangkaian bekas
dalam kepribadian.
d) Tahap laten ( usia 5 – awal pubertas)
Masa ini adlah periode tertahannya dorongan-dorongan seks
agresif. Selama masa ini anak mengembangkan kemampuannya bersublimasi ( seperti
mengerjakan tugas-tugas sekolah, bermain olah raga, dan kegiatan lainya).
Tahapan latensi ini antara usia 6-12 tahun (masa sekolah dasar)
e) Tahap genital/kelamin ( masa remaja)
Kateksis-kateksis dari masa-masa pragenital bersifat
narsisistik. Hal ini berarti bahwa individu mendapatkan kepuasan dari stimulasi
dan manipulasi tubuhnya sendiri sedangkan orang-orang lain dikateksis hanya
karena membantu memberikan bentuk-bentuk tambahan kenikmatan tubuh bagi anak.
Selama masa adolesen, sebagian dari cinta diri atau narsisisme ini disalurkan
ke pilihan-pilihan objek yang sebenarnya.
Kateksis-kateksis pada tahap-tahap oral, anal, dan phalik lebur dan di
sistensiskan dengan impuls-impuls genital. Fungsi biologis pokok dari tahap
genital tujuan ini dengan memberikan stabilitas dan keamanan sampai batas
tertentu.

No comments:
Post a Comment